MPF HERO and MPD Energy 47~

Posted by nur.fitriyani10 on August 25, 2011 in Uncategorized |

Hey, long time no check this blog.

Well, gue bakal menghidupkan kembali blog ini. Sayang juga kalo dianggurin yak. So, so, postingan ketiga ini gue repost dari blog gue di wordpress.

Di blog ini gue mengekspresikan kegiatan-kegiatan gue di IPB. Ga penting sih sebenernya. Haha. Whateva~

Here it is~

====================================================================
13 Agustus 2011

Satu tahun sudah gue kuliah di IPB. Satu tahun sudah dilalui di Tingkat Persiapan Bersama. Satu tahun tinggal di asrama. Dan satu bulan liburan gue sudah berakhir.

Saatnya memulai sesuatu yang baru lagi.

Mulai memasuki semester 3 di kampus tercinta. Mulai mengintip ke dunia perkuliahan yang “sebenarnya”. Mulai kehidupan mandiri, kelanjutan dari kehidupan di asrama…

Gue udah ga tinggal di asrama lagi. Gue hijrah ke sebuah rumah anaknya tetangga gue yang tinggal di Bogor. Tetangga gue ini udah kaya sodara, udah kaya Mbah Putri gue sendiri. Jadi, dia menawarkan rumah anaknya yang ada di Cimanggu, Bogor. Memang agak jauh dari kampus. Gue sempet galau gitu pengen ngekos/ngontrak/numpang tinggal di rumah kenalan-kenalan bokap. Dengan berbagai pertimbangan, gue memilih tinggal di sini, di Cimanggu. So, gue harus ngangkot dua kali untuk sampe ke kampus. It takes about one hour. Beda banget sama asrama yang seperempat jam juga nyampe ke ruang kuliah. Gue sekarang lagi menantang diri gue sendiri dengan pertanyaan, “Bisa ga ya gue…..?” Apakah gue bisa bertahan dan bisa mengatasi semua halangan dan rintangan yang ada? *Ya Allah, berilah hambaMu ini kekuatan.. shiver*

Semester 3. Itu artinya gue masuk Departemen! Yeah, akhirnya! Setelah setahun berkutat dengan pelajaran (ga bisa gue sebut mata kuliah) yang “SMA banget”, gue memasuki kuliah yang sebenarnya. Tapi masa’ langsung masuk gitu aja? Oleh karena itu, gue harus mengikuti masa perkenalan Fakultas dan Departemen gue. MPF/MPD itu lebih akrab dengan kata ospek!

Udah semester 3 masih diospek lo?? Bahahahaha.. udah kayak maba.. Read more…

Cerita Inspirasi 2 – Thomas Alva Edison

Posted by nur.fitriyani10 on September 12, 2010 in Uncategorized |

Nur Fitriyani

I14100132

Laskar 9

—————————————————————————————————————–

Saat membuat nametag untuk perlengkapan MPKMB, saya teringat tokoh yang satu ini. Dia adalah penemu simbol inspirasi modern, bola lampu. Siapa lagi kalau bukan Thomas Alva Edison. Dia sangat menginspirasi saya.

Satu quote dari beliau yang sangat menginspirasi :

Inspiration can be found in a pile of junk. Sometimes, you can put it together with a good imagination and invent something.

Inspirasi bisa ditemukan di tumpukan sampah. Terkadang, kau dapat menggabungkannya dengan imajinasi, lalu kau menemukan sesuatu.

Bila kita mau melihat sekeliling dan kreatif, kita bisa membuat dunia ini lebih baik. Begitulah semangat beliau.

Berdasarkan sebuah sumber, Thomas Alva Edison pernah dikeluarkan dari sekolah karena dia sangat hiperaktif. Orang-orang menganggapnya bodoh dan susah diatur. Namun, sebenarnya tidak seperti itu. Thomas kecil hanya memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar. Dia pun akhirnya belajar otodidak di rumah bersama ibunya. Dengan begitu, dia bebas mencari sendiri jawaban-jawaban akan pertanyaannya di segala buku ilmiah yang disediakan ibunya. Dia bahkan sering melakukan percobaan sendiri.

Tidak heran jika saat dewasa, Thomas menemukan banyak penemuan. Mulai dari telegraf, gramofon, bola lampu, proyektor dan lain-lain. Beliau dianggap sebagai salah seorang penemu yang paling produktif di masanya karena sudah memegang rekor 1.093 paten atas namanya.

Beliau bahkan seorang pebisnis yang handal. Beliau adalah penemu pertama yang menerapkan prinsip produksi massal pada proses penemuan. Tahun 1882 beliau memasang lampu-lampu listrik di jalan-jalan dan rumah-rumah sejauh satu kilometer di kota New York. Hal ini adalah pertama kalinya di dunia lampu listrik di pakai di jalan-jalan. Pada tahun 1890, ia mendirikan perusahaan General Electric.

Dibalik segala kesuksesannya, hidup beliau cukup sulit. Thomas berjualan di jalan sejak usia 12 tahun. Yang paling menginspirasi saya adalah perjuangan beliau dalam menemukan bola lampu. Entah berapa kali beliau gagal dan diremehkan. Namun, beliau tidak pernah menyerah untuk menemukan bola lampu. Dan setelah beliau berhasil menemukan bola lampu, beliau dielu-elukan sebagai The Wizard of Menlo Park, Penyihir dari Menlo Park atas penemuan-penemuannya yang penuh dengan keajaiban.

Genius is one per cent inspiration and ninety-nine per cent perspiration. – Thomas A. Edison

Genius adalah satu persen inspirasi dan 99 persen kerja keras. – Thomas A. Edison

Source : wikipedia.org, thomasedison.com

0

Cerita Inspirasi 1 – Seandainya saya dulu…

Posted by nur.fitriyani10 on September 12, 2010 in Uncategorized |

——————————————————————————————————————–

Nur Fitriyani

I14100132

Laskar 9

——————————————————————————————————————–

Dari sekian banyak upacara bendera yang saya ikuti, hanya satu upacara yang membekas di memori saya. Apakah itu karena panasnya mentari pagi? Bukan. Apakah karena saya terlambat? Tentu bukan, harena saya adalah siswa yang rajin. :) Yang membekas dari upacara hari itu adalah amanat pembina upacaranya. Jarang sekali bukan? Sebuah amanat upacara diingat oleh seorang siswa. Tapi, ya, saya mengingat amanat di Senin pagi itu. Tidak semua. Tapi beberapa kalimat Bapak Sriyadi, pembina upacara saat itu, mampu saya ingat. Kira-kira begini penggalan kalimat itu :

”Kalian tahu apa kalimat yang paling menyakitkan? Kalimat itu adalah ’Seandainya saya dulu….’ Apapun kelanjutan kailmat itu, pasti meninggalkan efek menyakitkan karena menyiratkan penyesalan mendalam.”

Setelah amanat itu, saya sama sekali tidak konsentrasi mengikuti kelanjutan upacara bendera hari itu. Pikiran saya melayang ke hal-hal yang membuat saya menyesal. Namun, saya, yang masih SMP saat itu, belum terlalu mengerti apa yang dimaksud oleh guru Matematika saya itu. Ketika saya mulai beranjak remaja, kata-kata itu terus membayangi dan membuat saya sadar kalau bapak pembina benar. Kalimat ’Seandainya saya dulu….’ adalah kalimat paling menyakitkan.

Seandainya saya dulu tidak menyia-nyiakan kesempatan..

Seandainya saya dulu tidak membuang-buang waktu

Seandainya saya dulu mendengarkan kata-kata orang tua

Seandainya saya dulu tidak melakukan ini

Seandainya saya dulu melakukan itu

Saya tidak tahu apakah dengan tidak melakukan ini dan itu hidup saya akan lebih baik. Tapi rasa penyesalan yang dikarenakan oleh perbuatan-perbuatan yang tidak semestinya itu membuat saya sakit. Memikirkan hal yang tidak akan bisa kembali memang sangat menyakitkan tapi sulit sekali dihentikan.

Saya berusaha tidak melanjutkan list ’Seandainya saya dulu…’. Saya meyakinkan diri saya kalau penyesalan itu tidak ada gunanya. Lebih baik melihat ke sekeliling daripada melihat ke belakang. Melihat ke belakang hanya membuat kita bersedih, merasa tidak berdaya dan mudah putus asa. Namun, kalau saya melihat ke sekeliling dari segala sisi, saya bisa melihat banyak hal dan mereka masih bisa saya ubah. Tentunya mengubah hal-hal itu ke arah yang lebih baik sehingga tidak ada kalimat ’Seandainya saya dulu….’ lagi.

Hari ini pun saya sedang mengubah beberapa hal dan harapan saya, semoga di kemudian hari tidak ada kalimat ’Seandainya saya dulu tidak kuliah di IPB’. :)

Yesterday is History, Tommorow is Mistery.. Just live for today.. :D

Copyright © 2010-2015 nui's blog All rights reserved.
This site is using the Desk Mess Mirrored theme, v2.3, from BuyNowShop.com.